Menerapkan Reduce–Reuse–Recycle -2

[Sambungan dari Bagian-1].

Selain mendukung konsep reduce-reuse-recycle dengan penggunaan barang bekas ini, kami juga mengangkat konsep interior vintage atau retro. Walaupun konsep vintage kami terlihat campur-aduk, artinya tidak mengacu ke periode jadul kurun tahun tertentu, karena kami memang tidak punya pengetahuan mendalam dalam hal itu; tapi kami mencoba konsisten dengan konsep jadul ini. Kami tuang juga dalam desain grafis logo dan media promo kami.

Ngomong-ngomong soal barang bekas dan jadul, ada kejadian menarik waktu saya sedang menunggu penyelesaian salah satu meja pesanan kami di Kemang. Pekerjanya seorang anak muda yang passionate sekali dengan mebel jadul dan kayu jati tua. Dia cerita, mebel-mebel jaman dulu itu dikerjakan dengan hati. Tidak seperti sekarang yang sudah dibuat sebagai industri karena kebutuhan yang melonjak.

Dia bilang, tukang kayu jaman dulu bisa dibilang seniman. Dia tunjukkan bahwa dalam sebuah mebel, dia ambil contoh salah satu bufet jadul di lapaknya, pasti dibuat dari satu batang pohon yang sama. Terlihat dari urat kayu yang seragam dan setipe di setiap bilah kayunya. Bentuk dan susunan urat kayu pun dibuat harmonis, sehingga terlihat indah.

xeIMG_8331

Dia juga bilang, “Saya senang sekali kalau ada orang yang membeli dan menggunakan kembali mebel-mebel jadul bekas ini seperi Bapak. Coba bayangakan, berapa batang pohon yang bisa kita selamatkan dengan kita mendaur ulang mebel bekas seperti ini?”

Saya juga baru sadar dan kepikiran saat itu. Benar juga ya apa yang dia bilang. Kita bisa sedikit ikut menyelematkan bumi, dengan mengurangi pemakaian kayu baru untuk furniture.

Terus terang saya takjub sekali, kata-kata itu meluncur dari mulut seorang tukang kayu yang tampak luarnya terlihat sangat sederhana, tapi dalamnya penuh kepedulian terhadap alam dan bumi Indonesia. Padahal sebaliknya, di beberapa bagian Sumatra dan Kalimantan sana banyak pemilik-pemilik perusahaan perkebunan culas yang membakari hutan kita. Ironis ya?

xeIMG_8088

Konsep jadul ini, kami usung juga karena salah satu poin penting yang ingin kami sampaikan adalah tentang sejarah, hal yang kadang suka kita lupakan. Dengan menghargai sejarah dari barang-barang peninggalan yang ada, kita lebih bisa menghargai barang-barang tersebut.

Agak sedikit out-of-topic, dengan sejarah pula kita bisa melakukan apa yang dikatakan Steve Jobs dengan connecting the dots. Menghubungkan titik-titik kejadian di masa lalu kita yang kemungkinan akan memberikan benang merah apa sebenarnya passion kita, bahkan mungkin apa purpose of life kita, misi hidup kita di dunia.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah – Jasmerah”, begitu kata Soekarno di salah satu pidatonya dulu.

Itu salah satu poin yang saya bicarakan saat ngobrol bareng Mas Erbe Sentanu beberapa waktu lalu. Kata beliau salah satu hal yang membuat Indonesia carut marut saat ini adalah karena kita kualat kepada leluhur Indonesia. Misalnya kita mengingkari nilai luhur yang diwariskan atau menganggap local wisdom yang turun temurun dari nenek moyang kita sudah ketinggalan jaman dan tidak bisa diterapkan di dunia modern saat ini.

[Bersambung ke Bagian-3].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s