Menerapkan Reduce–Reuse–Recycle -3

[Sambungan dari Bagian-2].

Pesan Mas Nunu kepada saya, hormati, hargai dan jangan pernah durhaka kepada orang tua kita dan garis keturunan ke atasnya. Beliau juga menyarankan agar saya pulang ke kampung halaman orang tua untuk mengenal lebih dekat saudara dan garis keturunan dari orang tua. Pasti dari situ kita akan menemukan ‘petunjuk’ untuk kehidupan kita. Bahkan mungkin kita bisa menemukan tugas dan misi hidup kita di dunia ini. Mungkin leluhur kita punya misi tertentu yang perlu dilanjutkan oleh kita. Wallahualam…

Kembali ke kafe kami, salah satu koleksi jadul kami adalah gilingan kopi (coffee grinder) made in England. Diperkirakan diproduksi awal 1900-an. Jenis gilingan ini ditandai dengan nomor 1 sampai 5. Nomor 1 untuk hasil gilingan terhalus, nomor 5 gilingan terkasar. Yang terbanyak dijual di Pasar Triwindu Solo, tempat kami hunting gilingan ini, adalah gilingan nomor 4. Nah, yang kita punya ini nomor 3. Lumayan langka apalagi dengan kondisi yang cukup baik.

xeIMG_8227

Ada televisi Jepang keluaran awal 80-an generasi pertama televisi berwarna. Televisi ini dikemas berkaki seperti bufet atau meja besar. Belum sempat diservis, semoga masih bisa berfungsi dengan baik. Sekarang bermanfaat menjadi meja display untuk pastry.

xeIMG_8407

Barista bar kami berasal dari bufet jati pinjaman ibu saya. Pembelian tahun 1958, ya betul saya tidak salah ketik, tahun 1958; saat mengisi rumah baru setelah menikah dengan ayah almarhum saat itu.

xBufet

Ada ‘harta karun’ yang saya dapat dari blusukan di Mal Rongsok Kukusan Depok. Satu set meja makan dan empat kursi jati yang populer disebut dengan model jengki. Keluaran sekitar tahun 70-an dengan ciri khas kaki meja atau kursi berbentuk bulat meruncing ke bawah dan menjorok ke arah luar.

Berkaitan dengan set meja makan ini ada satu cerita ajaib. Karena ingin menampilkan meja ini se-as-is mungkin, jadi kami tidak merapikan dan mengamplas permukaan kayunya. Di permukaan meja tersebut tertoreh coretan tangan anak-anak dengan spidol yang sudah agak memudar. Menuliskan sebuah nama laki-laki, mungkin namanya. Jadi coretan itu kami biarkan sebagai bagian dari sejarah meja tersebut.

Suatu hari, saat hunting ruko di Jalan Margonda Raya, ada beberapa ruko yang saya taksir dan saya langsung telpon satu per satu. Setelah menelpon masing-masing nomor, ada satu yang saya paling sreg dari segi harga dan kondisi strategisnya.

Setelah berkenalan, ternyata yang empunya ruko seorang bapak asal Aceh yang bernama SAMA PERSIS dengan nama yang tertulis di coretan meja makan jadul tersebut!

Kebetulan? Sebenarnya tidak ada yang namanya ‘kebetulan’. “There are no accidents”, kata Master Oogway di Kungfu Panda. Kami yakin itu sebuah sign. Makanya kami langsung deal mengontrak ruko tersebut.

[Bersambung ke tulisan berikutnya Ranah Kopi: Secangkir Cinta Indonesia].

.

Depok 12 Agustus 2013

Muadzin F Jihad

Founder Ranah Kopi

Twitter @muadzin

8 responses to “Menerapkan Reduce–Reuse–Recycle -3

  1. great. spertinya saya ikut berada didalamnya. ( suka sama yg jadul2 juga ), jadi walo tidak bisa mewujudkan punya cafe sperti itu dg membacanya ikut terbawa. TV jadul hitam-putih juga ada dirmh ortu tp sayang sdh rusak😦

  2. Pingback: Ranah Kopi: Secangkir Cinta Indonesia | Mata, Rasa & Kata Muadzin·

  3. Pingback: Ranah Kopi: Secangkir Cinta Indonesia | Ranah Kopi·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s