Bali dan Gayo 2/2

Sambungan dari Bagian-1

Saat mentoring bisnis @tangandiatas dengan Pak @RoniYuzirman, beliau sekilas cerita bahwa sempat bertemu dengan Mas @ErbeSentanu, penulis buku Quantum Ikhlas, yang sedang diminta bantuannya untuk mempromosikan kopi Aceh Gayo. Saya jadi teringat saat Pesta Wirausaha 2013 lalu, saat ketemu dengan Mas Nunu, sapaan akrabnya, dan beliau bilang kepada saya hal yang sama.

Lalu saya coba kontak beliau via Twitter, dan beberapa hari kemudian kami sudah ngobrol di salah satu warung makan depan Mal Cinere.

Mas Nunu cerita kalau dia beberapa saat lalu bertemu dengan Bupati Bener Meriah, kabupaten penghasil kopi Gayo, Bapak Ruslan Abdul Gani, dan beliau diminta untuk ikut membantu mempromosikan kopi Gayo.

Kondisi yang diceritakan Mas Nunu di daerah Bener Meriah dan Aceh Tengah, tempat kopi Gayo yang terkenal itu tumbuh, tidak jauh beda dengan kondisi di Bali seperti yang diceritakan Bang Rai. Petani dan masyarakat setempat tidak terbiasa minum kopi Gayo first grade yang di luar negeri sangat terkenal itu.

Bupati Bener Meriah itu sekarang sedang gencar-gencarnya mempromosikan kopi Gayo, terutama ke pasar domestik. Salah satu event promosi yang diadakan pak bupati ini adalah minum kopi bersama 50 ribu orang.

Keesokan harinya saya diajak Mas Nunu untuk ketemu dengan seorang ibu dari Mahkamah Syariah Aceh yang juga giat mempromosikan kopi Gayo, yang kebetulan sedang ke Jakarta. Di sela-sela acara seminarnya di bilangan Jakarta Timur, saya sempat ngobrol dan diskusi sebentar dengan ibu ini.

Tadinya beliau menyangka saya trader yang akan membeli kopi gayo untuk diekspor. Makanya awal-awal beliau agak menjaga jarak dan menutup informasi. Karena ibu ini cerita, dia dan kawan-kawan di sana lebih memilih agar kopi Gayo kualitas terbaik itu dipasarkan di pasar lokal, agar masyarakat Indonesia tahu kehebatan kopi tersebut, dibanding untuk diekspor. Ibu ini concern dengan kenyataan bahwa biji kopi terbaik gayo itu habis diekspor, sementara kopi grade berikutnya baru untuk konsumsi dalam negeri.

Terus terang dari pertemuan kami tersebut belum diperoleh rencana kongkrit ke depannya. Tapi minimal ibu tersebut, juga Mas Nunu minta tolong kerjasama mempromosikan kopi Gayo sebagai salah satu kopi nasional terbaik. Sayang sekali kalau sampai dunia luar lebih kenal kopi Gayo dibanding kita.

*

Dari dua pertemuan berbeda tersebut, satu tentang kopi Bali, satu tentang kopi Gayo; saya makin berkeyakinan bahwa usaha saya berikutnya adalah tetap di bidang kopi. Dan kopi yang akan saya sajikan adalah dalam bentuk freshly brewed, bukan instan, bukan bentuk bubuk dalam sachet. Karena itu saya perlu buka usaha berbentuk kafe. Seperti dream saya sejak dulu.

Memang apa yang akan saya lakukan nanti mungkin tidak ada apa-apanya bagi dunia perkopian Indonesia. Tapi minimal saya dan beberapa teman pemain kopi berniat menyebarluaskan pesan ini, agar kopi terbaik Indonesia berkibar di negerinya sendiri.

*

Kembali ke soal bentuk usaha kafe; kafe seperti apa yang akan saya dirikan? Apakah ‘sekedar’ kafe tempat minum kopi, atau kafe yang berbeda dari yang lain, yang unik?

Merujuk saran teman-teman dan beberapa pakar marketing, agar produk dan bisnis kita outstanding, kita harus punya story yang kuat, original dan genuine. Nah ini PR yang besar dan berat buat saya!

Saya sharing di tulisan berikutnya ya…

.

Depok 20 Juli 2013

Muadzin F Jihad

Founder Semerbak Coffee

Twitter @muadzin

One response to “Bali dan Gayo 2/2

  1. Pingback: Menerapkan Reduce–Reuse–Recycle -2 | Mata, Rasa & Kata Muadzin·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s