Catatan akhir tahun 2009 – Tantangan dan Impian (3/3)

Lanjutan dari tulisan kedua

Tantangan dan Impian

Bukan suatu usaha namanya jika tanpa tantangan. Baru di bulan-bulan awal setelah kami membuka usaha-usaha tersebut, tantangan-tantangan datang silih berganti. Beberapa usaha yang kami buka, dengan berat hati terpaksa kami tutup. Pertama untuk mengurangi cost yang keluar. Kedua, untuk fokus kepada usaha yang benar-benar profitable (profitnya tebel.. hehe).

Apakah kami gagal dalam usaha-usaha tersebut? Iya, kami gagal. Tapi itu semua adalah proses pembelajaran kami. Kata orang, kegagalan adalah satu paket dengan kesuksesan. Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan terlebih dulu.

Apakah kami terlalu berani mengambil resiko? Mungkin iya. Tapi apa sih di dunia ini yang tidak mengandung resiko? Setiap yang kita lakukan pasti mengandung resiko. Kita stay di comfort zone kita pun mengandung resiko, suatu waktu zone yang kita bangga-banggakan itu bisa hilang (seperti kisah di buku best-seller “Who Moved My Cheese”). Kegagalan bukanlah hal terburuk dalam hidup, tapi tidak pernah mencoba, itu lah yang terburuk.

Satu hal terpenting lagi, jika kami tidak buka beberapa usaha kemarin, tidak akan ada Semerbak Coffee hari ini. Kenapa? Karena sudah dapat dipastikan saya tidak akan ketemu dengan teman SMP yang saya ceritakan sebelumnya.

Terus kenapa sih bersusah payah membuka usaha? Jungkir balik mencoba jadi pengusaha? Kan sudah enak kondisi sekarang. Suami istri kerja di perusahaan asing. Gaji besar (really? Hehe). Nyari apa lagi sih? Banyak yang bertanya seperti itu kepada kami. Jawabannya akan saya ceritakan detail di buku saya (lagi-lagi kalo jadi ditulis dan kalo ada yang mau menerbitkan.. Hehe). Secara garis besar, alasan kami, terutama saya, adalah ingin kebebasan. Kebebasan waktu dan kebebasan uang. Robert Kiyosaki banget! Klise ya? Ga apa-apa deh. Memang itu keinginan saya. Bebas melakukan yang saya ingin lakukan di waktu yang saya inginkan. Contohnya, saya bisa jalan-jalan dengan anak ke mal di hari kerja saat mal sepi. Bukan ke mal di saat weekend, yang nyari parkir aja susah banget. Atau saya bisa melakukan hobi saya kapan pun saya mau. Atau saya bisa rekreasi ke luar kota tanpa harus menghitung sisa cuti dan sisa budget yang tersedia. Dengan tetap sebagai karyawan sudah pasti keinginan-keinginan ini tidak akan terlaksana. Untuk jadi pengusaha pun harus jadi pengusaha yang punya sistem handal, agar usaha tetap bisa jalan, sementara pengusahanya jalan-jalan🙂

Alasan kedua, dengan membuka usaha berarti kami membuka lapangan kerja. Jika saya menjadi karyawan, berarti saya mengambil 1 posisi lapangan kerja yang dibutuhkan orang lain, dan tidak membuka lapangan kerja. Saat ini karyawan yang kami gaji langsung memang masih sedikit. Tapi melalui kemitraan Semerbak Coffee, kami sudah membuka lapangan kerja minimal untuk 55 orang di seluruh Indonesia. Memang belum banyak, tapi target kami di tahun-tahun mendatang, jumlah kemitraan itu akan terus meningkat. Sehingga semakin tersedia lapangan kerja yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Untuk mewujudkan dua alasan itulah kami sekarang ada di jalur ini. Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak mungkin.

Kadang tantangan yang kami hadapi begitu besarnya, sampai kami berpikir apakah bisa menghadapinya. Don’t be pushed by your problems. Be led by your dreams. Jangan pernah menyerah karena tantangan-tantangan yang menghadang, teruslah maju dengan kekuatan impian.

Seperti “Laskar Pelangi”-nya Nidji:

mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia

telah hilang tanpa lelah sampai engkau meraihnya

bebaskan mimpimu di angkasa, raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga

bersukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi

walau ini kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita

jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga

bersukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia

selamanya…

Satu lagi yang terpenting. Berdoa. Doa dalam bahasa Arab artinya “mengajak”. Mengajak Tuhan bekerjasama dengan kita. Jika kita sudah satu tim dengan Tuhan, siapa lagi dan apa lagi yang kita takutkan? Guru spiritual saya mengajarkan, jangan berdoa untuk dimudahkan jalan kita, tapi berdoa untuk diberi kekuatan agar kita dapat melewatinya. Karena tantangan dan ujian hanya diberikan kepada kita yang akan naik kelas.

Ya Allah, berilah kekuatan dan kesabaran kepada hamba dalam mewujudkan segala impian dan harapan, untuk kebaikan sesama dan semesta. Amien.

Selesai.

Depok, 8 Januari 2010 dinihari.

Muadzin F Jihad

Founder & Owner Semerbak Coffee

www.semerbakcoffee.com

6 responses to “Catatan akhir tahun 2009 – Tantangan dan Impian (3/3)

  1. makasih mas udah sharing ceritanya. saya bc dari awal. ga nyangka juga mas muadzin punya masalah kk. jadi semangat lagi. sempat mau tutup usaha, tapi lihat karyawan dah 2 dan udah lumayan rame (walau belum nutupi biaya sewa ruko he he). pasti ada jalan! !!!!!

  2. saya sudah baca dari yang sesi pertama dan yang ini luar biasa semoga saya bisa segera menyusul seprti bapak Muadzin. menjadi enterpeneur Sukses dan humble.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s