Sekali Lagi, Karakter

Beruntung sekali, kemarin di Markplus Conference 2013 saya masuk kelasnya Pak Arif Yahya, Direktur PT Telkom. Saya tidak akan cerita tentang isi sharingnya yang diambil dari bukunya yang diluncurkan di event kemarin, Paradox Marketing. Silakan beli bukunya, banyak berisi rahasia bisnis yang di luar dari kebiasaaan. Karena itu, tagline bukunya adalah “Unusual Way to Win”.

xIMG_1871

Yang saya ingin ceritakan justru salah satu insight berharga yang saya dapat pada sesi tanya jawab. Ada yang bertanya bagaimana jika ada karyawan yang tidak setuju dengan perubahan yang diterapkan oleh direksi dan manajemen. Karena ide-ide perubahan yang diusung beliau memang ide yang di luar kebiasaan.

Pak Arif menjawab jauh di luar perkiraan saya, saya pikir dia akan menjawab dengan jawaban umumnya para pemegang kendali perusahaan.

Kata beliau, di dalam dunia perusahaan dikenal istilah Character – Competence – Compensation; kemudian beliau  menganalogikan ketiga unsur ini seperti ruh – rasa/rasio – raga.

Raga terbuat dari tanah, lanjutnya. Tanah akan selalu menarik kita ke bawah, ke arah asalnya. Sebaliknya, ruh terbuat dari cahaya, akan selalu mengajak kita ke atas. Jika kita selalu fokus pada pemenuhan atau pemuasan ragawi, kita akan selalu ditarik ke bawah. Ke kelas terendah. Jika hidup kita ingin meningkat, dan naik ke kelas yang lebih tinggi, kita harus fokus pada pemenuhan hal-hal ruhani atau spiritual.

Itu mungkin sebabnya Stephen Covey yang terkenal dengan 7 Habits-nya meluncurkan The 8th Habit yang berisi tentang spiritualitas. Pak Ari Ginanjar dengan ESQ-nya, dan banyak contoh-contoh lainnya.

Hal yang sama juga berlaku pada perusahaan, karena perusahaan serupa dengan diri kita. Jika kita ingin mengubah atau menaik-kelaskan perusahaan kita, jangan melulu berfokus pada compensation. Tentunya gaji, bonus, benefit memang diperlukan karyawan, tapi apakah seorang karyawan bergaji besar bisa dipastikan akan terus mendukung ide-ide perubahan perusahaan? Apakah dia tidak tergiur untuk pindah perusahaan jika ada yang menawarkan kompensasi lebih besar?

Menurut Pak Arif, berfokuslah pada character. Jika karakter para pelaku usaha atau pemimpin perusahaan dan manajemen kuat dan meningkat, maka karakter karyawan juga akan mengikuti. Jika suatu perusahaan sudah mempunyai karakter yang bagus, perubahan apa pun yang dilakukan, seluruh karyawan perusahaan tersebut akan mengerti dan menyadari bahwa itu pasti perubahan yang akan mengangkat perusahaan ke kelas yang lebih tinggi.

Jadi kalau kita sebagai pelaku usaha, karyawan kita tidak bersedia mengikuti kebijakan perusahaan, padahal itu untuk kebaikan dan pengembangan perusahaan, silakan dicek apakah perusahaan kita sudah berfokus pada karakter. Jika belum, pertanyaan berikutnya, sudahkah kita sebagai pemilik atau pemimpin usaha berfokus pada pengembangan karakter? Start with the man in the mirror, kata Michael Jackson.

.

Tulisan lain tentang karakter:

Mencetak Aset Manusia Berkarakter

Karakter. Dari Awal Hingga Akhir.

.

Depok, 14 Desember 2012

Muadzin Jihad

Owner Semerbak Coffee

Twitter @muadzin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s