Setahun Setelah Pensiun Dini (2)

Sambungan dari Bagian-1.

Saya bisa punya waktu untuk menulis blog secara reguler. Walaupun belum terlalu rutin, tapi lumayan rata-rata sebulan bisa posting empat tulisan. Dibanding tahun sebelumnya, 4 posting dalam satu tahun.. hehe minimalis!

Bahkan yang tidak saya sangka, saya bisa menyelesaikan penulisan buku pertama saya. Dan Alhamdulillah sudah ada penerbit yang berminat mencetaknya. Saat ini sedang masuk tahap koreksi dan revisi dengan editornya.

Saya jadi bisa gowes sepeda pulang-pergi kantor. Dengan santai.

Katanya, cara makan yang sehat dan tidak bikin gemuk adalah dengan menikmati makanan secara perlahan dan khusuk. Menghormati makanan dengan tidak disambil bekerja, membaca, atau bergadget-ria. Sesederhana apa pun menu makan kita, makan kita jadikan ritual yang dinikmati. Kabarnya, itulah kenapa orang Perancis rata-rata langsing, karena buat mereka makan adalah ritual yang mengasyikkan. Nah ini yang beberapa bulan terakhir saya praktekkan. Makanya lumayan langsing ‘kan badan saya? Walaupun, perut belum six-pack, masih family-pack.. hehe.

Selain itu, saya bisa melakukan ibadah, termasuk yang sunnah, seperti Dhuha dan Tahajjud, dengan lebih santai. Selesai sholat, bisa duduk berdoa dan berdzikir lebih lama. Tidak terburu-buru. Karena pada dasarnya, saya termasuk orang yang cenderung tergesa-gesa. Apalagi kultur pekerjaan dan kehidupan ibukota yang menuntut kita menjadi pribadi yang selalu bergerak dengan cepat. Terasa sekali kalau jiwa dan ritme kehidupan saya diredam, di-slow-down-kan dengan kegiatan-kegiatan ini.

Saya cerita ini bukan untuk riya. Terus terang, saya lakukan ibadah itu bukan untuk mengumpulkan pahala agar masuk surga. Bukan juga supaya terhindar dari neraka. Saya melakukan itu lebih untuk mencari kejernihan jiwa dan pikiran. Saat ini, hidup saya jadi lebih tenang. Lebih terasa selaras dengan alam. Lebih peka terhadap signs yang dikirim Tuhan. Sehingga insyaAllah keputusan-keputusan yang saya ambil, baik dalam bisnis dan kehidupan, bisa lebih jernih dan tepat.

Kalau dilihat dari tadi, semua  keuntungan-keuntungan yang saya ceritakan lebih kepada hal-hal yang tidak berhubungan dengan uang. Intangible. Dan karena saya mendapatkan hal-hal tersebut, saat ini saya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan saat saya masih menjadi karyawan.

Ya, memang kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang. Tapi uang bisa membantu kita mencapai kebahagiaan. Nah untungnya, menjadi fulltime entrepreneur, uangnya pun kita dapatkan.. hehe.

Walaupun belum terlalu banyak penghasilan yang saya dapatkan dari usaha saya, tapi Alhamdulillah di tahun ini saya bisa bebas hutang. Yang terakhir di bulan April lalu, saya bayar lunas hutang KTA dari bank asing yang terbesar pinjamannya. Tahun lalu, selain beberapa KTA, juga lunas KPR rumah yang sekarang kami tempati, yang sisa cicilannya masih 5 tahun lagi.

Kadang, untuk mendapatkan waktu, kita harus menukarnya dengan uang. Juga sebaliknya, untuk mendapatkan uang, kita perlu menukarkan waktu kita. Seolah-olah kita tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus di saat yang bersamaan.

Tapi Alhamdulillah, setelah pensiun dini, saya bisa merasakan bagaimana mendapatkan keduanya sekaligus. Uang dan waktu.

.

Depok, 6 Juli 2012

Muadzin F Jihad

Twitter @muadzin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s