Listen to Your Heart

Setelah drop isteri meeting untuk film terbarunya di kantor production house, sambil nunggu saya rencana habiskan waktu dengan nongkrong di salah satu kafe di Citos. Kenapa Citos? Ya karena kantor PH tersebut berada di belakang Citos.. hehe.

Ternyata Citos di Rabu siang ramai juga. Mungkin karena ada bazar Ladies Day.

Setelah men-screening kafe-kafe yang berjejer, akhirnya saya putuskan untuk mencoba masuk salah satu kafe yang sepertinya memisah area smoking dan non-smoking. Begitu masuk ternyata ada asap mengepul  dari salah satu meja. Yah.. Cabut deh! Ketika hendak balik badan ingin segera keluar, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang cowok yang hendak keluar juga. Saya ingat betul dia, teman satu angkatan kuliah. Langsung saya tegur. Dia surprise sekali. Ya, sudah 15 tahun kami tidak bertemu sejak kita lulus kuliah.

Kebetulan? Saya belajar dari guru spiritual saya, bahwa tidak ada kata ‘kebetulan’ dalam kamus kehidupan. Semua kejadian, semua peristiwa yang terjadi itu ada makna yang terkandung di dalamnya. Semua orang yang kita temui dalam keseharian kita, itu sebenarnya adalah cermin tempat kita berkaca. Utusan Tuhan untuk kita belajar. Pasti ada suatu lesson yang bisa kita pelajari.

Setelah duduk dan pesan kopi di kafe yang lain, kami ngobrol ngalor ngidul. Teman saya ini surprise, setelah tahu saya sudah tidak bekerja lagi dan sekarang running bisnis kopi. Karena dia adalah seorang coffee freak. Sampai bela-belain ikut kursus barista agar bisa meracik sendiri kopi yang enak.

Dan dia makin-makin surprise setelah tahu Semerbak Coffee sudah punya 380 outlet di seluruh Indonesia.

Teman ini salah satu idola saya waktu di kampus. Karena sejak masih mahasiswa, dia sudah punya usaha sendiri dan menyewa gedung kantor. Di kalangan teman-teman pun, dia dikenal sebagai seorang pengusaha yang walaupun masih muda tapi sudah cukup berhasil.

Sempat timbul perasaan iri kala itu. Kenapa dia bisa saya tidak bisa? Kenapa dia bisa punya perusahaan, sementara saya harus menjadi karyawan di perusahaan orang lain?

Tapi mengejutkan sekali, apa yang saya dengar dari dia. Dia cerita bahwa sudah dua tahun ini dia vakum tidak ada kegiatan. Loh?

“Gue udah jenuh banget sama yang gue kerjain!”, katanya. “Bisnis gue bisnis KKN. Dari dulu, dari jaman Soeharto.”

Ya bisnis dia memang project-based yang berhubungan dengan instansi-instansi pemerintah. Ya kita sama-sama tahu bagaimana proses pemenangan tendernya di sana.

“Proyek-proyek gue didapat karena relasi”, tambahnya. “Gue udah muak dan eneg banget, kerja gue kadang cuma sekedar jadi penghubung. Ga pake skill. Ga pake kemampuan.”

Sebaliknya dia berkali-kali takjub dan memuji bisnis kopi saya. Saya bilang bisnis ini belum apa-apa, masih berkembang. Lagi pula ini bisnis ‘receh’ dibanding bisnisnya.

“Iya receh, tapi riil uangnya. Dan yang penting kan faktor kalinya”, timpalnya. “Bisnis gue memang dollar bayarannya, tapi ga jelas berapa persen profit bersihnya. Dan kadang habis begitu saja, ga tahu kemana”.

“Kalau dari receh-receh dikumpulin jadi banyak, kita jadi menghargai uang itu. Gue kadang begitu dapat uang proyek gede, seperti dapat jackpot. Jadi ga menghargai. Uang itu ngalir keluar lagi gitu aja.”

Dia membentur-benturkan kepalanya di meja kafe saat tahu modal yang saya keluarkan di awal membangun Semerbak Coffee hanya 1,8 juta rupiah.

“Gila! Proyek gue yang terakhir, gue udah keluar kira-kira 1.5 miliar untuk pemenangannya. Sampai sekarang, udah 1 tahun lewat, belum juga jalan tuh proyek!”

Dan dia bilang banyak sekali sekarang orang-orang yang seperti itu. Terlihat gaya, selalu entertaint klien-kliennya, padahal proyeknya tidak ada. Statusnya saja pengusaha, tapi tanpa profit, tanpa cashflow.

Dia cerita, kalau sudah setahun terakhir ini dia dan isteri sudah mikir-mikir untuk do something different. Tapi belum tahu itu apa. Saya tanya kenapa dia tidak buka kafe saja.  Dia katakan sebenarnya hampir saja ide itu terwujud. Sudah ada yang menawarkan lahan seluas 400 m2 gratis. Selain tidak ada dana untuk modal awalnya –yang tersedot ke investasi pemenangan proyek-proyeknya –  dia juga tidak berani memulai usaha baru yang high investment seperti itu. Terlalu beresiko, katanya.

Dan akhirnya dia tertarik untuk mempelajari lebih jauh paket kemitraan booth Semerbak Coffee –yang murah meriah– untuk ditempatkan di sebuah mal dekat perumahan tempat tinggalnya. “Sekalian buat belajar bisnis yang loe bilang ‘receh’ ini.. haha”, candanya.

Setelah dia pamit lebih dulu karena ada janji, saya termenung di meja kafe tersebut. Saya jadi bersyukur sekali. Bersyukur dulu tidak berada dalam lingkungan yang punya koneksi dan kemudahan-kemudahan. Saya bersyukur berasal mempunyai latar belakang yang biasa-biasa saja. Yang harus struggle untuk mendapatkan yang kita inginkan. Walaupun harus melewati dunia karyawan lebih dulu, walaupun harus berusaha ekstra keras, tapi sekarang saya bisa berdiri di atas kaki sendiri. Dengan bangga.

Saya belajar bahwa pada akhirnya hati nurani akan bicara. Kita tidak bisa terus menerus membohongi nurani kita dalam jangka waktu lama. Tapi, mendengarkan hati nurani dan mengetahui apa yang kita mau ini memang merupakan suatu kerja keras. Itu salah satu yang saya bahas di buku saya yang akan segera terbit (aseli bukan promosi..hehe).

Listening to your heart is not simple. Finding out who you are is not simple. It takes a lot of hard work and courage to get to know who you are and what you want. –Sue Bender

.

Citos, 7 Maret 2012

Muadzin F Jihad

Owner Semerbak Coffee

Twitter @muadzin

8 responses to “Listen to Your Heart

  1. Kebetulan? Saya belajar dari guru spiritual saya, bahwa tidak ada kata ‘kebetulan’ dalam kamus kehidupan. Semua kejadian, semua peristiwa yang terjadi itu ada makna yang terkandung di dalamnya. Semua orang yang kita temui dalam keseharian kita, itu sebenarnya adalah cermin tempat kita berkaca. Utusan Tuhan untuk kita belajar. Pasti ada suatu lesson yang bisa kita pelajari.

    “PR”-nya adalah, menggali nilai-nilai positif yang tersirat dan bersyukur atas setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita… Thanks for the lesson Pak🙂

  2. Teman itu dikirim Allah, mungkin agar kita tambah bersyukur ya Pak. Terus jangan pernah terlena pada proyek2 gede. Duitnya gede tapi gan nenangin hati gara-gara manfaatnya bagi orang banyak gak begitu jelas. Mending jualan kopi yang pasti mencerahkan hari-hari orang setiap hari..Ah catatan yg membuat saya berpikir agak dalam pak🙂

  3. akhirnya muncul lagi tulisan yang ditunggu bertahun-tahun. maknyuss..

    ini saya banget nih:
    “Listening to your heart is not simple. Finding out who you are is not simple. It takes a lot of hard work and courage to get to know who you are and what you want.”

    -salam dari junior kampus fakultas sebelah persis-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s