Go Local!

Di hari pertama Pesta Wirausaha, gelaran Komunitas Tangan Di Atas, saya langsung dapat insight yang makjleb banget!

Dua orang pembicara, yang keduanya merupakan pakar branding dan guru saya, Yuswohady dan Subiakto; mengemukakan hal yang senada. Terkait dengan persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Yang ternyata, secara tidak sengaja telah kami terapkan dan rumuskan ide ini sebagai misi Ranah Kopi, kedai kopi usaha kami, pada saat didirikan dua tahun lalu.

Apa pesan kedua pakar branding tersebut? Saya rumuskan secara bebas menjadi: Go Local. Produk lokal, dari lokal, oleh lokal, untuk lokal.

Loh kok jadi melokal? Bukannya dulu digembar-gemborkan untuk kita Go Global?

Ya, karena pasar terbesar ASEAN adalah justru di sini, di Indonesia, di negeri kita. Negara tetangga kita saat ini sudah berancang-ancang untuk menyerbu masuk dengan kencang. Nah, kalau kita yang punya negeri malah fokus ekspor produk kita go global, kan ironis jadinya. Kampung kita diserbu orang, sementara kita sibuk persiapan (baru siap-siap lagi) menyerbu ke luar kampung.

Belum lagi untuk ekspor dibutuhkan banyak hal yang rumit, perijinan dan persyaratan yang tidak mudah, serta butuh usaha dan biaya yang besar. Terutama untuk ekspor kopi yang butuh surat perijinan khusus seperti EKS (Eksportir Kopi Sementara) dan ETK (Eksportir Tetap Kopi).

Ada yang bilang, kok kita malah defensif menghadapi MEA ini. Kan katanya pertahanan yang baik adalah menyerang. Justru menurut saya, strategi ini adalah ofensif. Menyerang pasar kita dengan produk lokal, sebelum mereka diserbu produk global.

Subiakto di Stan Ranah Kopi

Subiakto di Stan Ranah Kopi, PW2015

Tentu strategi yang dibutuhkan tidak hanya itu. Mas Yuswohady dan Pak Subiakto juga bilang, untuk bisa bersaing merebut pasar domestik itu, tentu produk kita harus berkualitas global, inovatif, punya keunikan, punya branding yang ciamik, dan lain-lain hal yang dibutuhkan oleh sebuah produk layaknya produk tersebut akan diekspor. Think globally, act locally.

Ide ini pernah juga saya dengar di acara Pesta Wirausaha 2014 tahun lalu. Adalah Muhammad Yukka, founder Brodo, yang saat itu sedang sharing di atas panggung ditanya oleh salah satu ibu peserta seminar tentang kesuksesan produk sepatunya yang berhasil menembus pasar beberapa negara. Si ibu ingin sekali produknya merambah pasar luar.

Mas Yukka di luar dugaan malah balik bertanya kepada ibu yang berbisnis baju muslim tersebut. “Kenapa punya niat ekspor? Ekspor itu ribet dan butuh effort yang tinggi. Itu kebetulan saja kami ada pasar yang minta. Pasar kita yang terbesar adalah di dalam negeri. Seluruh dunia sedang mengincar Indonesia, masak kita yang sudah ada di dalamnya malah mengincar pasar luar.”

Ya, Indonesia saat ini ibarat seorang putri cantik yang sedang diincar banyak pemuda untuk dipinang.

[Bersambung ke Bagian ke-2]

6 responses to “Go Local!

  1. Meng-Amin-kan Mas Muadzin. Think Globally, Act Locally! *Yuuuk kita bangunkan Putri Cantik yg masih tertidur🙂

  2. Ah untung Arenga ngotot main dalam negeri. Wong di sini saja sudah gede untungnya, kok ya mesti capek jualan ke luar. Tapi untuk pasar luar boleh juga sih digarap, sepanjang ada permintaan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s