Go Local! (Bagian-2)

[Sambungan dari Bagian-1]

Misi go local ini pulalah yang kami usung pada saat mendirikan Ranah Kopi. Ide ini harusnya lebih diterapkan pada kopi khususnya. Kenapa? Karena komoditas kopi selama ini justru sudah terlalu banyak diekspor. 60% dari total produksi kopi Indonesia yang diekspor. Sedangkan kopi ‘sisa ekspor’, kualitas ke-sekian, baru untuk konsumsi domestik.

Ditambah lagi budaya (entah ‘dibudayakan’ secara sengaja atau tidak) kita yang terbiasa minum kopi sachet. Di mana kita sama-sama tahu, yang namanya instan, sudah pasti tidak fresh, dan ada zat-zat aditif yang ditambahkan di dalamnya. Kalau kita perduli dengan kesehatan kita, tentu kita akan berpikir dua kali untuk mengkonsumsinya.

Kami, teman-teman pencinta kopi dan pemain kopi, berusaha mengajak masyarakat untuk terbiasa mengkonsumsi kopi yang sehat dan berkualitas. Kopi yang freshly brewed. Kopi yang berasal dari biji kopi pilihan, yang digiling dan diseduh sesaat sebelum diminum.

Fakta bahwa komoditas kopi lebih banyak diekspor, mungkin salah satu sebabnya karena tingkat konsumsi kopi kita yang masih rendah. Bayangkan untuk sebuah negara penghasil kopi nomor 4 dunia, tingkat konsumsi kopi kita hanya di peringkat 70 dunia (data Euromonitor 2014).

The World's Biggest Coffee Drinkers

The World’s Biggest Coffee Drinkers (Euromonitor 2014)

Salah satu hal juga mungkin karena selama ini di masyarakat banyak beredar mitos bahwa minum kopi itu tidak sehat. Bisa menyebabkan penyakit lambung, darah tinggi, jantung, dan lain-lain. Ya mungkin ada benarnya, kalau kita sehari-hari minum kopi yang tidak sehat. Tapi sebenarnya, menurut banyak penelitian justru kebalikannya, kopi itu sehat dan menyehatkan. Saya sih mikirnya simpel saja, masak sih Tuhan menciptakan pohon dan biji kopi yang tidak sehat.

Beberapa teman berasumsi, mungkin mitos itu sengaja diciptakan agar masyarakat kita tidak minum kopi, agar konsumsi kopi kita rendah, ujung-ujungnya agar biji kopi terbaik negeri ini tetap bisa diekspor. Agak lebay ya? Tapi bukannya itu yang terjadi sejak jaman VOC? Penjajahan ekonomi dan penjarahan komoditi. Seperti yang pernah saya ceritakan tentang film Aroma of Heaven (Biji Kopi Nusantara).

Tentunya, jika makin banyak masyarakat yang sadar akan meminum kopi yang sehat, tingkat konsumsi kopi domestik kita otomatis akan meningkat.

Rai Bangsawan (Alm), inspirator saya saat mendirikan Ranah Kopi, secara berkelakar bilang, dia punya target untuk membalik kenyataan yang ada sekarang. Biji kopi yang berkualitas untuk konsumsi pasar domestik, sisanya baru diekspor.

.

Depok, 7 April 2015

Founder Ranah Kopi

Twitter @muadzin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s