Kenangan Pahit Orde Baru

1977

Sebenarnya tidak terlalu banyak yang saya ingat. Saya waktu itu masih kecil. Kami tinggal di sebuah kota mungil penghasil nikel di Sulawesi Selatan, Sorowako. Ayah saya bekerja pada perusahaan pengolahan nikel di sana. Kami hidup nyaman. Rumah bagus, fasilitas lengkap, sekolah gratis dan lain-lain. Hampir setiap hari saya berenang di danau indah yang terletak hanya ratusan meter dari rumah kami, Danau Matano. Boleh dibilang, itu salah satu fase terindah masa kecil saya.

Peta Sorowako

Peta Sorowako

Tapi hidup tiba-tiba berubah. Beberapa hari Ayah tidak pulang ke rumah. Singkat cerita, kami harus meninggalkan rumah dinas tersebut dan kembali ke Jakarta. Ibu saya, membawa kami -satu kakak, saya, dan dua adik saya- pulang. Tanpa Ayah ikut serta.

Kakak saya saat itu juga baru kelas 1 SMP. Cerita kakak saya yang saya tangkap kemudian, bahwa ayah saya  difitnah. Ceramah agama yang kerap disampaikannya di lingkungan kantor, dianggap merongrong pemerintahan saat itu. Subversif, itu istilah yang populer di masa itu. Jadi, Ayah dikeluarkan dari pekerjaannya dan dibui di Makasar (dulu Ujung Pandang).

Ya, ayahku terkenal jujur serta lurus, dan memang gemar berdakwah menyampaikan kebenaran yang diyakininya.

Kebetulan saat itu menjelang Pemilu. Pemerintah Orde Baru selalu memperketat pengawasan di masa-masa itu. Termasuk tata cara orang berkumpul dan materi ceramah yang akan disampaikan. Dan kebetulan juga, Presiden Soeharto akan berkunjung ke Sorowako untuk meresmikan pabrik pengolahan nikel di sana. Jadi memang sepertinya, ekstra ketat pengawasan saat itu

Dalam perjalana ke Jakarta, ketika pindah pesawat di Makasar, kami berkesempatan menjenguk Ayah. Saya tidak tahu itu di mana dan gedung apa. Yang saya ingat banyak pria berseragam, mungkin polisi atau tentara, dan banyak senapan dipajang berdiri berjajar. Ibu dan Ayah berbincang berhadapan di salah satu meja yang ada.

Memang tidak lama Ayah masuk sel, mungkin hitungan minggu atau bulan. Tapi kejadian itu tersebut benar-benar membekas dalam hidup saya. Saya tidak ingin jaman seperti itu terulang kembali dan menimpa anak-anak saya.

[Bersambung ke tulisan berikutnya]

.

Depok, 5 Juli 2014

*diketik di iPhone dalam perjalanan Commuter Line menuju GBK Senayan “Konser Salam 2 Jari”

.

Muadzin F. Jihad  @muadzin

Owner Ranah Kopi – Kafe & Resto

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s