Gowes Lahir Bathin

Braaak! “Eh suara apa itu?”.

Tiba-tiba saya sudah terduduk di aspal tanjakan flyover itu. Sebuah angkot berhenti tepat di belakang saya. Si supir bergegas turun. Angkotnya menabrak belakang sepeda saya lumayan keras. Lampu sign-nya pecah dan bumpernya penyok. Roda belakang sepeda saya melintir seperti angka 8.

Untungnya saya tidak apa-apa. Tidak ada luka. Tapi engkel kaki saya agak sakit, saat dibawa untuk berdiri.

Langsung saya menumpahkan kekesalan kepada si supir angkot. Seperti biasa, supir-supir seperti itu kalau sudah salah, cuma bisa planga-plongo. Coba kalau pas lagi rebutan penumpang di jalan, beringasnya minta ampun.

Dia langsung balik ke mobilnya. Mengambil semua uang yang ada di dashboard-nya. Sambil menghitung dia menghampiri saya. Saya lihat beberapa lembar sepuluh ribuan dan beberapa lembar lagi pecahan lebih kecil. Lecek. Tidak sampai 50 ribu saya taksir.

Hadeh… paling apes memang kalau ditabrak angkot. Tidak bisa minta ganti rugi!

Saya bilang, “Eh mau ganti berapa? Enak aja! Anterin saya ke bengkel.”

Saya muati angkotnya dengan sepeda lipat saya. Bengkel terdekat ternyata tidak bisa mengganti velg dan rodanya, karena ukurannya khusus. Terpaksa ke bengkel resmi Dahon, Rodalink.

Setelah dicek teknisi, diperkirakan untuk velg-nya sekitar 150 ribu, belum untuk ban dan jari-jarinya. Itu pun barang harus pesan dulu. Jadilah si seli Dahon menginap.

Keluar dari Rodalink, si supir masih beritikad  baik dengan menanyakan berapa biaya yang harus diganti. “Ga usah bang. Antar saya pulang aja ke rumah”. Dia menghela napas lega dan berterimakasih berkali-kali.

***

Sejak saya resign dan fulltime wirausaha, saya selalu usahakan untuk naik sepeda ke kantor. Bike to work.

Awal resign, saya berencana beli sepeda motor untuk transportasi sehari-hari seputaran Depok. Cuma saya urungkan niat tersebut, karena saya tahu, jika di rumah ada motor, pasti sepeda jadi tidak pernah dipakai.

Kenapa saya memaksakan diri untuk bersepeda, minimal dari rumah ke kantor?

Banyak hal yang saya dapat, diantaranya:

.

>Olahraga.

Ya, jika tidak memaksakan diri gowes pulang dan pergi ke kantor, maka bisa dipastikan saya tidak pernah berolahraga. Hehe… Kadang saya memang fitnes di gym kompleks rumah. Cuma masalahnya, lebih sering malasnya ketimbang rajinnya. Apa lagi jika pulang kantor dan sudah ketemu anak-anak.

Bersepeda ke kantor, walaupun jaraknya tidak terlalu jauh -hanya 20 menit ditempuh dengan santai-, tapi lumayan ‘kan, bisa olahraga sekitar 40 menit total pulang pergi.

.

>Menikmati pagi.

Saat berangkat dengan bersepeda, itu menjadi pengalaman keseharian yang mengasyikkan. Saya bisa mengamati hal-hal kecil yang saya temui sepanjang jalan ke kantor. Mengamati keragaman kegiatan orang-orang menyambut pagi. Hal yang tidak bisa saya amati jika saya mengendarai mobil atau motor.

Di bawah siraman cahaya matahari pagi, murid-murid sekolah menunggu kendaraan umum di pinggir jalan. Ibu-ibu mengantar anak-anaknya. Ada juga yang baru pulang berbelanja. Mas-mas dan mbak-mbak karyawan bergegas berangkat ke kantor. Tukang bubur ayam dan ketoprak membuat pesanan pelanggannya, yang duduk menunggu di kursi plastik dekat gerobaknya. Pemilik toko dan warung mengeluarkan dan memajang barang dagangannya.

Buat saya, bisa menikmati pemandangan-pemandangan seperti itu adalah hal yang indah. Mengamati semangat manusia menyambut pagi. Ada aura rasa syukur yang memancar dari mereka. Jika anda belum pernah melakukannya, anda perlu melakukannya sekali waktu.

Nothing compares to the simple pleasure of a bike ride. John F. Kennedy

>Menikmati jalanan.

Jalan datar, menanjak, menurun sangat terasa jika kita mengayuh sepeda. Beda sekali jika kita mengendarai kendaraan bermotor.

Jalur perjalanan saya ke kantor itu harus melalui sebuah flyover. Walau tanjakannya lumayan landai, tapi cukup panjang juga. Cukup menguras tenaga betis. Gigi gear pun harus dipasang di gigi 1.

Saat ngos-ngosan menjelang puncak, saya kadang butuh suara-suara motivator ,“Ayo, kamu bisa! Sedikit lagi!”. Apa lagi kalau pagi mataharinya sedang cerah, berasa juga keringat mengucur deras.

Tapi setelah puncak tanjakan, ini yang saya suka: turunan yang mengasyikkan. Meluncur kencang tanpa mengayuh pedal. Angin menerpa muka.  Suaranya berdesing di telinga. Ya , sebelum mengalami keasyikan itu memang perlu kerja keras mendaki tanjakan. Seperti kehidupan ya? Tantangan dan kemudahan datang silih berganti.

Effort only fully releases its reward after a person refuses to quit. –Napoleon Hill

.

>Humble yourself.

Saya adalah orang yang punya bakat untuk arogan. Saya orang yang kompetitif. Selalu ingin jadi nomor 1. Tidak suka dikalahkan. Sejak SD hingga SMA, saya selalu dan berusaha keras untuk menjadi juara kelas.

Saya beruntung pernah aktif menjalani bisnis MLM selama 8 tahun. Di situ ego saya harus saya kantongi dalam-dalam. Di situ saya melatih diri dengan sengaja merendahkan hati saya setiap hari.

Begitu pula halnya dengan bersepeda. Ini yang sekarang jadi sarana saya untuk humble yourself. Setinggi apa pun jabatan anda, sekaya apa pun anda, sehebat apa pun pengaruh anda, begitu anda bersepeda di jalan raya, tidak ada yang mempedulikan anda. Semahal apa pun sepeda anda, Anda akan kepanasan, kehujanan, diklakson mobil dan motor, menghirup asap hitam bis kota, dan dipepet angkot.

Ya, di atas sadel sepeda di jalan raya, anda harus terima, bahwa anda bukan siapa-siapa.

Tentu akan beda pribadi yang dibentuk, jika kita setiap hari bersepeda menghadapi tantangan kerasnya jalan raya, dibandingkan jika kita setiap hari naik mobil yang nyaman.

You can be up here one day and down here the next day, so dont take nothing for granted. Stay humble and just go hard at whatever you do. When you get the opportunity to make it happen just do it to the fullest. Yung Berg.

.

>Konsisten dan displin.

Tidak mudah untuk setiap hari disiplin bersepeda. Selalu saja ada godaan untuk masuk mobil, menyalakan kunci kontak, dan mengendarainya. Apa lagi jika malas sedang menyerang.

Kadang jika saat pulang sore hari, hujan keburu turun, di situ tantangannya. Bersepeda di bawah siraman hujan. Napas memburu di sela-sela derasnya air hujan dan dinginnya udara. Basah keringat bercampur dengan basah air hujan. Apa lagi jika lupa memakai jaket atau jas hujan.

Pernah satu kali saya tidak sempat memakai jaket, ternyata hujan begitu deras, ditambah angin kencang. Saya terpaksa berteduh di sebuah warung. Sambil menggigil karena kebasahan, saya sempat mikir, “ngapain juga ya gue bela-belain naik sepeda?”.

Sama seperti bisnis dan kehidupan, kita kadang butuh kediplinan dan konsistensi untuk berhasil. Apa lagi saat tantangan dan kesulitan menghadang.

Life is like riding a bicycle – in order to keep your balance, you must keep moving.  Albert Einstein

.

Depok 21 Mei 2012

Muadzin F Jihad

Owner Semerbak Coffee

Twitter @muadzin

2 responses to “Gowes Lahir Bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s