Marketing Outlook 2018: Meneropong Milenial

Berdasar data dan riset yang ada, ternyata kelesuan dunia ritel konvensional akhir-akhir ini, bukan karena faktor masyarakat beralih ke moda belanja online. Karena, penjualan online ternyata hanya menyumbang porsi yang kecil dari total penjualan ritel nasional. Lantas apa faktor terbesar?

Demikian salah satu bahasan Mas Yuswohady (Siwo), seorang pakar branding dan marketing, dalam diskusi Komunitas Memberi tempo hari. Sebagian poin-poin diskusi tentang Marketing Plan & Outlook 2018 tersebut, ditulis oleh Mas Siwo dalam artikel di blognya Welcome Leisure Economy. 

Ternyata, sedang terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat, dari good-based consumption (barang tahan lama) ke experience-based consumption (pengalaman), seperti traveling, liburan, nongkrong di kafe/restoran, nonton bioskop, perawatan kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ini sebagian besar dimotori oleh para milenial, karena mereka adalah konsumen dominan (sekitar 46%) di Indonesia saat ini. Jadi tidak seperti Baby-boomers atau Gen-X yang ukuran kesuksesannya adalah kebendaan (seperti rumah, mobil, elektronik, dan sejenisnya), generasi milenial lebih memilih experiences, daripada things.

Para kids jaman now ini, tidak lagi tertarik membeli segala macam benda-benda yang oleh para pendahulunya dimiliki, dikoleksi, bahkan dipamer-pamerkan, dan menjadi ukuran status sosial seseorang. Mereka ini lebih tertarik untuk jalan-jalan, makan-makan, mencoba hal-hal baru dan tempat baru.

Nah, bagaimana dengan dunia bisnis dengan terjadinya pergeseran ini? Sudah pasti, bisnis yang akan makin moncer adalah bisnis yang berhubungan dengan travel dan leisure. Dan sejalan dengan itu, oleh Pemerintah, sektor pariwisata saat ini dijadikan core economy karena kontribusinya yang besar. Penyumbang devisa nomor dua terbesar setelah kelapa sawit.

Sebagai pelaku usaha di bidang kopi dan kedai kopi, tentu ini menjadi angin segar buat kami. Pertama, kami berada di jalur yang benar, yaitu bisnis yang menawarkan experience. Kedua, ini baru di fase-fase awal pergeseran pola konsumsi, jadi peluang ke depan masih sangat besar. Cuma tantangannya adalah, bagaimana menjalankan bisnis yang bisa menyelami pola pikir komsumen milenial, yang cenderung berubah cepat.

Salah satu temuan Mas Siwo juga adalah, milenial lebih tidak loyal dengan sebuah brand dibanding pendahulunya. Terbukti merk air minuman dalam kemasan yang sudah berusia 40 tahun, kalah dengan produk sejenis yang baru muncul tahun-tahun belakangan. Begitu juga dengan minuman teh dalam botol legendaris yang sudah berumur puluhan tahun, tergelincir penjualannya oleh pesaing yang baru berusia beberapa tahun saja.

Dari sisi brand establish-incumbent tentu ini mencemaskan. Tapi dari sisi brand new-challenger dan UKM tentu ini sebuah peluang. Pertanyaan saya waktu itu, apa yang membuat brand-brand baru bisa menang dari brand lama di tangan konsumen milenial? Itu masih misteri dan masih dalam penelitian, dan bisa jadi akan makin unpredictable, jawaban Mas Siwo.

Terus terang diskusi dengan Mas Siwo seharian tersebut, benar-benar membuat saya merenung dan berkontemplasi. Membuka ide peluang-peluang pengembangan bisnis, yang selama ini tidak pernah terpikirkan.

.

Depok, 31 Oktober 2017

Muadzin F Jihad

Founder Ranah Kopi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s