Kenangan Pahit Orde Baru – 1998 (2)

[Sambungan dari Bagian-1]

.

14 Mei 1998

Di luar kantor, saya dan seorang rekan mengelola semacam usaha penjualan sembako, terutama gula. Kami mengambil bahan baku dari sebuah koperasi perusahaan BUMN yang berlokasi di Jalan Kalibata Raya. Tidak seberapa jauh dari kantor kami di Pejaten Timur.

Saat jam istirahat hari itu, kami menyambangi koperasi tersebut untuk membeli beberapa karung gula. Saat keluar kantor koperasi yang berlokasi persis di seberang Pasar Swalayan Goro tersebut, saya melihat banyak orang bergerombol. Saya menangkap gelagat dan suasana yang tidak enak dari orang-orang tersebut.

Kami memutuskan untuk segera beranjak. Dan saat kami menghubungi kantor, ternyata karyawan dipulangkan setengah hari. Mungkin situasi Jakarta makin genting, setelah sebelumnya terjadi Tragedi Trisakti dan dilanjutkan dengan berbagai kerusuhan dan penjarahan di daerah Jakarta Barat.

Kendaraan pribadi dan umum sudah jarang yang lalu lalang. Kalaupun ada angkot atau bis, sudah penuh dengan orang-orang yang ingin segera pulang. Saya akhirnya mengejar kereta ekonomi Jabotabek, satu-satunya kendaraan yang paling aman dan memungkinkan untuk mencapai Depok.

Dari dalam kereta ekonomi itu lah saya melihat dengan kepala sendiri, di sepanjang jalan massa berlarian sambil berteriak-teriak. Ada yang memanggul barang-barang elektronik, menjarah toko-toko, melempari gedung dan ruko dengan batu, memecahkan kaca jendela, mendobrak pagar dan pintu, hingga membakarnya. Bangunan tiga lantai Departemen Store Robinson yang berada di seberang stasiun Pasar Minggu dan beberapa ruko di sekitarnya dibakar.

Di dalam kereta pun, kami ketakutan, kalau-kalau kereta juga diserang oleh kelompok massa.

Ternyata kerusuhan tidak hanya terjadi di Jakarta. Penjarahan dan pembakaran gedung terjadi juga di Depok, terutama di Jalan Margonda Raya. Alhamdulillah saya bisa sampai rumah dengan selamat. Tapi dengan hati yang resah dan trenyuh melihat situasi di jalan.

 

18-19 Mei 1998

Bersama beberapa teman kuliah yang pernah aktif di kemahasiswaan, sepulang kerja kami mendatangi Gedung MPR/DPR, bergabung dengan teman-teman mahasiswa dari seluruh Indonesia yang berkumpul di sana.

Suasana di dalam lingkungan kompleks Gedung MPR tersebut, saya rasakan seperti jambore dari seluruh perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan seluruh Indonesia. Tidak memandang asal kampus, daerah atau agama, semua berbaur dalam kesamaan rasa dan kesamaan tujuan.

Gerakan ini tidak hanya dilakukan para mahasiswa yang berkumpul menduduki Gedung MPR, tapi oleh semua lapisan masyarakat. Para alumni dan orang tua mendukung secara moril dan finansial. Para kelompok ibu-ibu menyumbang logistik, seperti nasi bungkus, minuman, obat-obatan, dan lain-lain. Jadi sejatinya gerakan ini tidak hanya gerakan mahasiswa, tapi gerakan seluruh rakyat Indonesia. Semua bergelora, dengan satu tujuan: turunkan Soeharto.

 

21 Mei 1998

Sejarah baru Indonesia ditorehkan. Soeharto lengser dari kursi presiden. Sayang saya hanya menonton kejadian ini dari rumah. Di Gedung MPR tentunya begitu luarbiasa suasananya. Luapan kegembiraan masyarakat meledak.

Bayangkan, people power yang diinisiasi oleh mahasiswa, yang kelihatan lemah tak berdaya, ternyata bisa menjatuhkan rezim tirani yang sudah mengakar selama 32 tahun. Seperti David yang kecil dan lemah bisa menumbangkan Goliath raksasa yang perkasa.

Diambil dari http://efenerr.com/2014/06/06/indonesia-1998-james-nachtwey/

Indonesia, 1998 – Jubilation at announcement of Suharto’ s resignation. *Diambil dari http://jamesnachtwey.com/ dan http://efenerr.com/2014/06/06/indonesia-1998-james-nachtwey/

 

Juli 2014

Sejak lahir, sampai lebih dari setengah usia hidup saya, hidup dalam atmosfir Orde Baru. Saya mengalami kepahitan dan kesuraman yang terjadi. Karena itu, saya jelas-jelas tidak ingin jaman seperti Orde Baru tersebut berulang kembali. Salah satu caranya saat ini adalah, dalam Pilpres besok, saya memilih calon presiden generasi baru, yang akan membuat terobosan-terobosan segar, dan yang tidak terkait dan tidak didukung oleh kroni Orde Baru.

Dan di Konser Salam 2 Jari di GBK Senayan kemarin, saya merasakan dejavu. Perasaan yang mirip dengan yang saya rasakan saat berada di kompleks Gedung MPR 16 tahun lalu. Perasaan bergetar dan bergelora memperjuangkan suatu perubahan. Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi rakyat Indonesia.

.

Depok, 7 Juli 2014

Muadzin F Jihad  @muadzin

Owner Ranah Kopi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s