Good Enough Never is

Di minggu siang tadi nyempetin baca buku Built to Last, salah satu dari buku trilogi Jim Collins yang jadi buku acuan wajib di Kelompok Mentoring Bisnis kami dengan pak Roni Yuzirman. Dua buku lainnya adalah, Good to Great dan Great by Choice.

Buku ini ditulis berdasar riset selama 6 tahun tentang perusahaan-perusahaan besar (Jim Collins menyebutnya “visionary companies”) yang bisa bertahan dan berkembang puluhan tahun, bahkan ada perusahaan yang sudah berusia 150 tahun.

Screen shot 2013-02-04 at 12.37.07 AM

Dipaparkan di buku tersebut, ada 10 mitos tentang resep perusahaan yang menjadi besar. Salah satunya adalah mitos bahwa perusahaan yang sangat sukses, fokus utamanya adalah untuk mengalahkan kompetitornya.

Kenyataannya adalah perusahaan-perusahaan sukses ini fokus utamanya adalah untuk mengalahkan diri mereka sendiri. Mereka selalu berkembang dan berinovasi. Selalu bertanya, “bagaimana kita bisa meng-improve kita yang lebih baik lagi esok, dibanding apa  yang sudah kita lakukan hari ini”.

Dan pertanyaan itu sudah menjadi habit harian mereka, sebagai disiplin hidup mereka. Tidak peduli seberapa besar hal yang sudah mereka capai, tidak peduli sudah berapa jauh mereka di depan kompetitor lain, mereka tidak pernah berpikir mereka sudah melakukan cukup baik.

Jadi kalau mereka selalu bisa mengalahkan kompetitor mereka, itu hanya akibat dari pengembangan diri yang berkesinambungan tersebut.

Saya jadi ingat, waktu di bisnis MLM, salah satu mentor bisnis saya bilang, jangan pernah membandingkan diri kita atau bisnis kita dengan orang lain. Karena pasti yang kita bandingkan adalah kelemahan kita dibanding dengan kekuatan mereka. Maka kita akan menjadi minder dan inferior. Sebaliknya kalau kita merasa sedang “di atas”, kita akan membandingkan kekuatan kita dengan kelemahan mereka, akibatnya kita jadi ujub dan sombong.

Jadi harusnya yang kita bandingkan adalah kita hari ini dengan kita yang kemarin. Don’t race against others. Race against yourself, kata Robin Sharma di bukunya “The Monk Who Sold His Ferrari”.

Kesimpulannya, baik dalam bisnis atau dalam pengembangan pribadi, jika kita ingin menjadi sangat sukses, seharusnya tidak ada kamus ‘cukup baik’. Good enough never is, begitu judul salah satu bab di buku ini. Kita harus selalu merasa “hijau”. Selalu berusaha meng-improve apa yang sudah kita capai.

Don’t bother just to be better than your contemporaries or predecessors.
Try to be better than yourself.  -William Faulkner (1897 – 1962)

.

Depok 3 Februari 2013

Muadzin F Jihad

Founder Semerbak Coffee

Twitter @muadzin

11 responses to “Good Enough Never is

  1. Muslim yg beruntung adalah dia yg hari ini lebih baik daripada hari kemarin..bukan begitu pak muadzin? semoga kita termasuk orang2 di dalamnya…aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s