‘Bercengkerama’ dengan Debt Collector
Ketika bulan lalu Semerbak Coffee, perusahaan kami, mengadakan outing team building dan family gathering di Puncak, kebetulan bertepatan dengan ulang tahun pertama anak ketiga kami, Axantara.
Kenangan saya langsung melambung ke masa-masa saat istri saya mengandungnya. Karena masa-masa itu bisa dibilang masa-masa yang sangat menantang bagi kami selama kami membina rumahtangga.
Ceritanya dimulai pada Februari 2009. Setelah ikut kelas sebuah pelatihan bisnis, keinginan untuk memiliki usaha makin menggebu. Ada dua franchise yang sudah terbukti bagus track record-nya yang saya incar. Hanya modal yang belum ada. Cari-cari informasi pinjaman usaha kecil ke bank-bank, ternyata persyaratannya sama. Punya agunan aset tak bergerak dan usaha sudah berjalan minimal 2 tahun. Rumah yang kami tempati masih dalam cicilan KPR, jelas tidak bisa dijadikan agunan. Tanah tidak punya. Belum lagi syarat kedua. Yang sudah pasti kami tidak memenuhi, orang ini baru mau mulai usaha kok
Jadi jelas tidak mungkin dapat pinjaman usaha dari bank.
Pantas saja wirausaha di negeri ini jumlahnya sedikit, mau pinjam ke bank untuk modal usaha susah sekali.
Pilihan kedua, cari investor atau pemodal. Tidak ada yang minat, baru mulai mau buka usaha soalnya.
Nah di saat seperti itu saya dapat tawaran telpon dari salah satu bank asing yang menawarkan kredit tanpa agunan (KTA). Wah pucuk dicinta ulam tiba nih, saya pikir saat itu. Memang bunganya tinggi sekali, bisa sampai 20-30% per tahun saat itu. Cuma karena persyaratan yang mudah dan proses yang cepat, jadilah KTA ini pilihan saya untuk memodali usaha saya. Perhitungan di atas kertas, profit dari usaha yang akan saya jalankan, bisa menutup cicilan pinjaman KTA tersebut.
Jadilah saya mengambil KTA dari tawaran kartu kredit bank asing tersebut. Karena satu KTA tidak mencukupi untuk pemodalannya, saya apply ke beberapa bank asing penyelenggara KTA. Dan ternyata prosesnya di semua bank tersebut memang cepat. Bahkan tanpa konfirmasi, tiba-tiba uang pinjaman sudah ditransfer ke rekening kita. Tanpa kita bisa menolaknya!
Singkat kata, dengan modal pinjaman KTA tersebut, akhirnya saya berhasil membuka dua usaha franchise. Satu bidang kuliner, satu lagi laundry. Istri saya buka salon dua cabang. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini
Ternyata kadang rencana di atas kertas beda sekali dengan keadaan di lapangan. Karena satu dan lain hal, semua bisnis kami terpaksa ditutup karena merugi. Hanya tersisa bisnis laundry dan Semerbak Coffee. Yang terakhir ini, yang awalnya hanya iseng dan kecil-kecilan ternyata berkembang di luar dugaan (cerita lengkapnya ada di sini).
Tentunya ini berdampak besar ke pembayaran cicilan KTA yang saya ambil. O iya, untuk informasi, KTA yang kami ambil total berasal dari lima bank asing, dengan jumlah total sekitar 300 juta rupiah. Jumlah itu untuk sebagian orang mungkin termasuk kecil untuk sebuah modal usaha. Tapi bagi kami yang baru terjun pertama kali dalam dunia bisnis, itu jumlah yang sangat besar. Mau tahu berapa yang harus kami bayar jika sudah ditambahkan bunga? Total sekitar 550 juta!
Enam bulan pertama kami masih bisa bayar cicilan dari uang cadangan sisa KTA tersebut. Bulan-bulan berikutnya pembayarannya menjadi sangat berat. Menghabiskan sebagian gaji dan seluruh THR saya saat itu. Terpaksa dengan berat hati saya menjual beberapa alat fotografi kesayangan saya untuk menutupi pembayaran cicilan tersebut. Kepanikan mulai melanda. Kebuntuan di depan mata.
Saat kita tidak bisa menjawab tantangan, saat itu lah kita mengharap Tuhan akan turun tangan. Kami berdoa dengan keras minta dibukakan jalan menghadapi kendala kredit macet ini.
Secercah ide muncul dari sebuah postingan di Facebook tentang bisnis pengurusan kredit macet untuk kartu kredit dan KTA. Cari-cari info, dapat saran teman untuk coba jasa tersebut. Setelah kontak dan janjian ketemu, saya meluncur ke kantor jasa tersebut di bilangan Gunung Sahari. Ternyata kantornya sederhana sekali. Hanya satu kios kecil dan satu karyawan. Dia menjelaskan prosedur dan persyaratannya. Biayanya 10% dari total hutang kredit macet. Berarti 30 juta! Tapi katanya bisa dicicil selama 6 bulan. Mereka akan bantu negosiasi dengan pihak bank untuk me-reschedule atau mendiskon pokok hutang KTA saya.
Setelah berunding dengan istri, sepertinya tidak ada solusi lain yang memungkinkan, akhirnya kami mengambil jasa tersebut. Dengan membayar cicilan pertama dari biaya mereka, resmi lah kami bekerjasama dengan perusahaan tersebut.
Ga pernah nyangka.. perusahaan jasa yang kadang selintas terbaca di iklan baris Kompas atau Poskota, yang dulunya saya bingung, apa kerjanya perusahaan ini, ternyata sekarang saya bekerjasama dengan salah satu dari mereka
Sementara itu telpon-telpon penagihan dari pegawai bank-bank yang bersangkutan mulai sering masuk. Tidak hanya ke HP saya, juga istri saya. Karena ada dua dari KTA tersebut yang atas nama istri saya. Tidak hanya ke HP tapi juga ke rumah dan ke kantor kami. Ingat lho.. dari lima bank, bukan satu bukan dua. Dan teror itu pun dimulai! Ya, teror.
Semakin lama telpon-telpon semakin sering berdering. Ke HP, ke rumah, ke kantor. Bulan pertama telat bayar, kata-kata dan intonasi yang disampaikan masih dalam batas wajar. Tapi bulan berikutnya, sudah semakin keras dan kasar bahasa yang mereka gunakan. Bahkan berupa makian dan kata-kata kotor. Telpon rumah sampai terpaksa kami cabut untuk mengurangi tekanan meraka, dan takut kalau-kalau anak-anak balita kami yang mengangkat telpon.
Dan yang paling kurang ajar, mereka tidak hanya menelpon kami, tapi juga menelpon orang tua kami. Orang tua kami yang sudah lanjut usia, dimaki-maki karena urusan hutang anaknya yang mereka sama sekali tidak tahu menahu.
Saran dari perusahaan jasa tersebut, sebisa mungkin hindari telpon-telpon tersebut. Dan jangan terpancing. Mereka memang dilatih untuk menteror. Jadi kata-kata yang keluar dari mulut mereka memang di luar batas kesopanan dan kesusilaan.
Tidak berhasil lewat telpon, mereka mulai mengutus orang untuk datang ke rumah atau ke kantor. Itu lah pengalaman pertama kami bertemu muka dengan yang namanya debt-collector. Di teras rumah kami, mulai sering terjadi dialog (ngotot-ngototan tepatnya) antara kami dengan para debt-collector tersebut. Dialog pengunduran pembayaran hutang dan sejenisnya. Karena memang tidak ada lagi uang untuk membayar cicilan-cicilan tersebut. Saya paling tidak kuat saat istri saya menangis setelah menerima telpon atau kedatangan debt-collector tersebut. Saat itu saya cuma bisa berdoa untuk dikuatkan agar bisa melewati semua tantangan yang ada.
Kejadian yang paling tidak bisa saya lupakan adalah pada saat tanggal 31 Desember 2009. Saat banyak orang sudah berlibur dan mempersiapkan pesta tahun baru, hari itu saya didatangi dua orang collector di kantor saya. Dan saya harus membayar hari itu juga cicilan bulan berjalan sebagai syarat untuk proses reschedule. Terpaksa Saya ambil uang ke ATM. Uang yang tadinya untuk pos belanja yang lain. Kebetulan ATM-nya berjarak dua gedung dari kantor saya. Saya berjalan ke gedung tersebut dengan dikawal dari belakang dan ditunggui saat di ATM. Persis seperti tersangka yang takut sewaktu-waktu kabur.
Satu lagi, saat kedatangan lima orang collector di kantor saya. Sofa-sofa di ruang reception kantor saya langsung penuh oleh orang-orang berwajah garang dan berbadan besar.
Kami jadi parno (paranoid) jika ada suara motor berhenti di depan rumah kami. Atau jika pulang ke rumah, mendapati ada motor di parkir di depan rumah, langsung hati seperti tersentak.. “waduh collector lagi nih…” Bayangkan, seminggu bisa 2-3 orang collector datang ke rumah.
Pernah suatu hari saya sedang di jalan, istri saya telpon dari rumah sambil menangis terisak-isak menceritakan bahwa baru saja dia minta tolong satpam kompleks untuk mengusir collector yang ngamuk di rumah kami.
Malu dengan tetangga? Wah.. kami sudah tidak sempat mikir malu. Kami bukan ngemplang atau lari dari tanggungjawab. Kami sedang berjuang untuk menuntaskan masalah kredit macet kami.
Saya ingat satu KTA terakhir yang kami proses diskon dan pelunasannya itu persis bertepatan dengan hari lahir anak kami Axan tadi. Saya pagi berangkat kantor dan sudah ada janji ke bank dimaksud jam 9. Saat saya masih di kereta ekspres Depok-Sudirman, tiba-tiba istri saya telpon sudah mules dan kontraksi. Tapi istri saya bilang, selesaikan dulu saja urusan KTA, baru pulang. Karena sudah tidak tahan, ternyata istri saya berangkat naik taksi ke rumah sakit beberapa saat kemudian dan mendaftar administrasi persalinan sendirian.
Sementara saya di kantor bank tersebut menunggu antrian yang lama sekali, karena para staf seperti terlihat menyepelekan. Data kredit yang saya terima via telpon, ternyata berbeda dengan yang ada di database mereka. Karena sudah terlalu lama dan perasaan khawatir terhadap keadaan istri saya, saya tinggalkan bank tersebut dengan menumpang ojek. Langsung dari daerah Gatot Subroto ke Depok. Alhamdulillah anak kami lahir selamat dan saya masih sempat menemani di rumah sakit saat kelahirannya.
Lantas bagaimana dengan bank yang paginya saya mau proses pelunasannya? Seharian itu debt collector mereka menelpon ke HP saya. Cuma karena saya sedang bahagia-bahagianya dengan kelahiran anak kami, saya sengaja bermain-main dengan collector tersebut. Saya katakan “tadi pagi saya datang mau melunasi, malah sistem database Anda ngaco. Bukan salah saya kalau saya tinggalkan untuk menemani istri yang mau melahirkan.” Lantas dia marah-marah, maki-maki dan mengancam-ancam, memang cuma itu sih kerjaan mereka
Lantas saya tutup dan silent kan HP. Saya tidur siang sambil temani istri di rumah sakit. Sore saya lihat ada puluhan miss-called dan sms dari orang itu. Hehe.. Emang enaak?
Itu lah masa-masa terberat yang kami alami. Tidak ada pegangan lain selain menyerahkan pasrah semua kepadaNya. Semakin menyatukan diri denganNya itu jalan satu-satunya.
Susah buat saya untuk menggambarkan suasana perasaan kami di masa-masa itu. Keadaan seperti itu berlangsung hampir satu tahun. Karena tiap bank berbeda-beda masa tenggang re-schedule nya. Beruntung beda-beda, jadi kami masih sempat bernapas. Jika semua bank berbarengan prosesnya, tidak tahu apa yang bakal terjadi.
Bayangkan, kami yang tadinya tidak pernah punya bisnis, lalu pinjam kredit usaha ke bank, tiba-tiba punya kredit macet, berurusan dengan para debt collector yang tidak manusiawi, dan negosisasi dengan bank memproses re-schedule. Semua hanya dalam hitungan bulan.
Saat beberapa waktu lalu mencuat berita tentang tewasnya seorang nasabah bank asing yang dicurigai dilakukan oleh oknum debt collector di ruang negosiasi bank tersebut, percaya tidak, saya pernah ada di gedung yang sama, di bank yang sama, dan di ruangan yang sama, dalam proses negosiasi yang sama seperti yang dialami bapak almarhum tersebut *sigh…
Alhamdulillah, akhirnya dari rejeki yang kami peroleh, kami bisa melunasi dua dari lima KTA tersebut. Dan tiga sisanya di-reschedule dan didiskon pokok hutangnya. Insyaallah masih bisa kami bayar dengan keuntungan usaha kami hingga saat ini.
Mengenai perusahaan jasa perantara pengurusan kredit macet tadi, ternyata mereka hanya memberi kiat-kiat dan informasi mengenai proses diskon dan reschedule kredit. Karena pada akhirnya harus kita sendiri yang menghadapi pihak bank untuk bernegosiasi. Tidak bisa diwakilkan. Jadi setelah saya mengetahui hal ini, saya langsung putus kerjasama dengan mereka. Untung baru bayar satu kali dari rencana enam kali cicilan fee mereka.
Banyak yang bilang ke saya, bahwa saya terlalu gegabah dan nekat dengan meminjam modal usaha dari KTA. Ya mungkin ada benarnya. Cuma kalau mereka tahu bagaimana kuatnya keinginan saya untuk segera punya usaha, berhasil, dan resign dari kantor saya, mungkin mereka akan mengerti.
Tapi di balik semua pengalaman menantang tersebut, banyak hikmah yang bisa diambil. Salah satunya adalah, jika saya tidak mengambil pinjaman KTA tersebut, saya mungkin tidak akan buka usaha secepat kemarin, dan mungkin saya idak akan bertemu Iwan Agustian, rekan SMP saya yang mengajak bergabung di TDA Depok, dan tentunya tidak akan lahir Semerbak Coffee, usaha partneran dengan Iwan, yang sekarang saya jalani full-time setelah saya berhasil resign dari kantor tempat saya bekerja bulan lalu.
Beberapa waktu lalu, saya pernah berkunjung ke rumah guru spritual kami yang juga seorang pengusaha sukses di bidang perminyakan. Setelah saya ceritakan semuanya, dengan suaranya yang tenang dan menyejukkan, beliau bilang “See.. dari setiap kejadian, selalu ada rahmat yang besar di baliknya, jika kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Seburuk apa pun kejadian itu”.
Innama’al usri yusra. Fa innama’al usri yusra.. (Quran An Nashr: 5)
Setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
.
Depok 29 Juli 2011
Twitter @muadzin
Owner Semerbak Coffee



baca ceritanya aja dah ngeri bos… bgm ngalaminnya ya?
tapi kalimat terakhir sangat betul.
saat ini saya jg sedang mencoba menarik investor supaya ada gregetnya.
untuk yang baca ini, jgn sampai menurunkan motivasi berhutang ya…
hehehe….
makasih pak Heru.
Sukses!
Subahanallahhhh….terimakasih banyak kang atas sharingnya. Penuh inspirasi dan menegangkan. Banyak hikmah dan pelajaran yang saya ambil dari cerita diatas..terimakasihh….sukses mulia selalu yaa….
Makasih pa Chan.
Sukses mulia juga buat bapak.
Amien
Luar biasa sharingnya Pak, betul hanya keyakinan yang bisa menyelesaikan dari kesulitas tersebut.
Saya juga mengalami hal serupa tahun 2003 saat mengambil franchise pr******a dari tarik tunai KK dan juga memakai jasa perantara awalnya…
Maju terus Pak Muadzin dengan SC-nya !!
Salam,
Terimakasih pak.
Amien.
Sukses buat bapak.
Terima kasih pak,atas sharingnya..subhanallah luar biasa cerita bapak,,
Ngebayanginnya aja saya sudah ngeri dri ceritanya..
Statement bapak ttg “kuatnya keinginan untuk membuka usaha”,itu sama seperti yg saya rasakan..
Hasratnya luar biasa, sudah seperti panggilan jiwa..
Tapi alhamdulillah Allah memberikan berbagai kemudahan bagi saya untuk memulai usaha,lewat berbagai kompetisi2 business plan dan dari sana saya ngumpulin modal sedikit2 sampe bisa memulai bisnis yg masih kecil2an di http://katokkotak.com/
Dan ayat ini “Innama’al usri yusra. Fa innama’al usri yusra” benar2 menggunggah saya…
Terima kasih sudah berbagi pak..
Salam kenal dari saya,sukses buat usahanya..
Terimakasih pak. Salam kenal juga.
Selamat pa buat bisnisnya. Semoga makin berkembang & berkah.
Usul pak, jangan pernah bilang bisnis kita “kecil2an” pak, ntar diaminin malaikat yg lewat, beneran kecil terus pak. Bilang aja “sedang berkembang”
Sukses pak!
Pertanda dari langit betapa Alloh sangat membenci riba…
Setuju pa
Makanya pada awalnya saya bertanya2, kenapa bank syariah tidak ada yg mengadakan KTA.
Memang jalan orang menuju sukses berbeda-beda. Istri saya juga pernah mengatakan dari kutipan beberapa pengusaha bahwa salah satu modal awal menuju dunia bisnis adalah “berani” mengambil resiko apapun. Dan itulah menurut saya yang Pak Muadzin telah lakukan. Tidak banyak orang yang bisa melakukannya termasuk saya sendiri.
Semoga kesuksesan lainnya menanti Pak Muadzin dan keluarga serta selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin YRA.
Setuju pak
Moga sukses & berkah pak..
Amien. Terimakasih.
Btw selamat bergabung menjadi franchisee Semerbak Coffee pak. Langsung 2 lagi
Amin YRA.
Sama2. Terima kasih Pak Muadzin.
Pengalaman yang hebat sekali Pak. Sampai nahan napas dan narik napas berkali-kali bacanya. Syukurlah semua telah lewat. Saya ikut senang dan bahagia untuk Bapak
Terimakasih bu
Sepertinya kita akan semakin merasakan kebahagiaan ketika pernah melewati kesengsaraan, terimakasih berbagi kisah ini yang pasti juga akan menginspirasi para pembaca seperti saya, salam!
Sama2. Terimakasih pa
Luar biasa kisahnya begitu syarat hikmah.. Semoga usahanya lancar dan Bermanfaat. Semangat Pak Muazin..
Terimakasih pa. Amien
Sukses buat bpk.
Subhanallah…setelah membaca blog nya, saya mengurungkan niat untuk ambil KTA….eheheheh
Alhamdulillah
Kalo ada cara lain utk modal usaha sebaiknya tidak ambil KTA memang
terimakasih share nya pak, jd menurut bapak utk memulai usaha jgn hutang dl ya pak?, dan saya lihat bapak merintis beberapa jenis usaha dlm wkt bersamaan, tepatkah? atau perlu fokus dulu di satu jenis usaha?
Tergantung bu. Kalau memang bisnisnya visible & tidak ada investor, kenapa ga? Tapi sebisa mungkin bukan dgn KTA, krn bunganya yg selangit.
Ya sebaiknya fokus satu usaha bu. Itu kesalahan saya yg lain. Maklum anak baru
Luar biasa pak muadzin..saya sempat menggigil membacanya..dan menjadikan diri saya semakin semangat pak..sekali lagi terima kasih…
saya masih mahasiswa pak..tapi keinginan saya untuk menjadi entrepreneur sangat kuat sekali..alhamdulillah perlahan2 sudah memiliki usaha sendiri..tapi dari hutang bank..memang benar pak, untuk menjadi entrepreneur di indonesia sangat dipersulit…
mohon bimbingan dan pencerahannya pak..
semoga SC semakin lancar dan menginspirasi pak
Makasih sudah mampir
Selamat mas! Sukses terus buat mas!
Subhanalloh Dzin, terharu gw bacanya.. Semoga gw bisa mengambil hikmah dan pelajaran dr pengalaman Muadzin..
Makasih Risma udah mampir
Amien.
Baru baca pengalaman nya Muadzin, luar biasa he he he…semoga Semerbak Coffe terus bisa menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi yang lain…
Salam
Makasih bro sdh mampir.
Amien..
Baru saja selesai baca tulisannya Pak.
Terima kasih atas ceritanya.
Ternyata mungkin Pak Muadzin gak kalah pinter dari istri Bapak dalam hal menulis. Buktinya, saya sangat menikmati tulisan yang Bapak buat di atas, runut, alurnya sangat ‘bercerita’, dan menarik. #seperti membaca novel kesukaan yg tidak mau brenti membacanya sebelum tuntas
Ada yg ingin saya tanyakan, karena keluarga kami pernah mengalami hal serupa terlilit hutang besar kartu kredit dan KTA dengan jumlah yang amat sangat banyak (sayangnya bukan karena alasan yang baik).
) Total berapa lama ya sejak mulai mengambil kredit2 tersebut sampai pelunasan? Saya terlalu ngeri membayangkan kalau harus sekian tahun berjibaku dengan hutang2 bank ini. Pernah kah Bapak/istri merasa seakan2 sangat bodoh bahwa sampai skrg msh harus ‘menafkahi’ orang2 bank tersebut?
1. Pernahkan dalam masa2 sulit dikejar2 debt collector itu (kl saya sbg perempuan membayangkan dlm posisi istri), merasakan penyesalan2 yang amat sangat atas keputusan2 yang diambil tersebut?
Kalau saya, mungkin akan sangat menyesal karena sampai saat ini untuk brenti kerja aja saya tidak berani.. apalagi sy tipe org yg ingin melakukan semuanya dengan perencanaan yg matang, tidak ingin dibayang2i perasaan bersalah sama anak2, sama orang tua, sama suami, dll. Pernah gak menyesal bahwa brenti kerja, bahwa mengambil kredit dgn bunga sangat tinggi tanpa simpanan pengamanan sebelumnya, tanpa rencana cadangan apabila trnyt usahanya gagal, bahwa dampaknya bisa berakibat anak2 tdk bisa sekolah, dsb. Karena hal2 demikian yg saya takutkan kl saya berpikir mau mulai usaha sendiri.
2. Pernah gak Bapak dan istri tidak seia sekata ketika memutuskan ingin memiliki usaha sendiri dan brenti kerja?
3. Apakah sampai sekarang hutang2 itu belum lunas seluruhnya?
(saya sangat concern untuk masalah hutang, bisa sampai susah tidur kl mikirin hutang
#maaf ya Pak, just saying
Pertanyaan2 di atas sangat menggelitik bagi saya, maafkan dan saya sama sekali tidak bermaksud untuk men’judge’ atau apapun. Seperti Bapak bilang, seandainya saya bisa mengerti seberapa besar hasrat Bapak dan istri untuk berwirausaha maka mungkin saya akan mengerti. Mungkin memang saya belum sebegitu berhasratnya untuk mulai berwirausaha.
Terima kasih banyak sebelumnya Pak Muadzin.
Semoga sukses selalu!
Salam buat istri.
Makasih juga bu sudah mampir.
Sepertinya menjawab pertanyaan ibu perlu satu kali posting blog nih hehe.
Saya coba jawab besok ya bu.
Sukses buat ibu & keluarga. Salam.
Subhanallah, jarang ada enterpreneur yg sharing masa2 sulitnya sedemikian detailnya, ini jd pengalaman berharga buat saya, memang jalannya sulit, tp hasil yg didapat luar biasa, 5x buka usaha, 4x gagal, 1 usaha sukses luar biasa.
Rgrds,
WQ
Makasih pak
sangat….sangat … berkesan sekali mas certinya.. pengalaman saya kerja ikut orang juga tidak tahan segera resign dan usaha sendiri dan alhamdulillah sudah satu tahun ini saya tercapai memiliki usaha sendiri meskipun sudah mengajak investor dan kredit UKM.. sukses selalu buat usahanya dan pengalaman memang-memang guru yang terbaik
Makasih mas
Selamat mas. Sukses terus buat usahanya.
waahh ceritanya keren banget!! kemaren baca ceritanya mas Rangga Umara Lelelela, sekarang baca ceritanya mas Muadzin Semerbak Coffee.. ngeri euuyy.. pantesan bisa sukses n bermental baja, tempaannya kayak gitu sih! salut.
btw, bisa diambil hikmahnya ya, jangan berhubungan lagi sama yg namanya praktek riba / rentenir dan sejenisnya, karena dilarang Allah ^.^ dan seperti kata Aa Gym, sepahit apapun kejadian, kalo bisa membawa kita semakin dekat pada Allah, maka itu adalah karunia yg luar biasa ^.^
Makasih bu sdh mampir.
Iya bu insyaAllah ini pertama dan terakhir
Pak, sungguh luar biasa ceritanya.. saat ini saya juga sedang kesulitan membayar kartu kredit dan kta saya, saya mau bertanya pak, berapa bulan setelah macet bank mau rescdule utang kita? soalnya sy pernah ke bank utk minta rescdule tapi blum bisa krn saya di anggap nasabah lancar..terima kasih atas jawabannya
Makasih bu.
Sktr 2-3 bln ke atas. Ya, kalau ibu masih bayar, ibu dianggap mampu bayar. Ibu harus nunggak/tidak bayar dulu, baru bisa proses reschedule.
terima kasih jawabannya pak,
sekuat tenaga sih saya masih berusaha bayar walaupun berat bgt, tapi mungkin sih bulan depan saya sudah tidak mampu bayar, collectornya galak banget pak, nagih kasar bgt, tapi mereka masih lwt telepon sih nagihnya.. tapi kalo aya tidak bayar sama sekali apakah debt collector akan dtg ya? waktu itu bgm cara bapak menghadapi mereka?
terima kasih ya pak sudah mau menjawab pertanyaan saya
Ya memang mereka dilatih utk menteror. Kasar, galak, tidak manusiawi bahkan. Cara menghadapinya, ibu terus terang saja bahwa memang sdh tidak sanggup bayar.
Minta pada Tuhan untuk dikuatkan bu. Semoga Ibu bisa melewatinya.
Semoga membantu.
terima kasih banyak pak..