Kemarin di IDMC, saya melihat Peng Joon naik ke panggung tanpa slide sama sekali.
Dan justru itu pelajaran terbesarnya.
Sekarang semua orang bicara soal AI. Dan jujur, kami di Forest Beverage Solutions juga pakai AI.
Untuk bantu bikin caption.
Draft surat dan email.
Analisa data.
Dan banyak pekerjaan lain yang dulu cukup makan waktu.
Tapi ada satu hal yang mengena:
Kalau semua business owner punya akses ke tools AI yang sama, prompt yang sama, template yang sama, copywriting yang sama, bahkan video dan funnel yang sama…
Lalu apa yang benar-benar membedakan satu bisnis dengan bisnis lainnya?
Jawabannya bukan hanya soal siapa yang paling jago pakai AI.
Tapi siapa yang masih bisa membawa sisi manusianya.
Peng Joon menyebutnya sebagai “the art of AI”.
Ia merangkumnya dalam CRAFT:
C — Conviction
AI bisa memberi kata-kata. Tapi kalau kita sendiri tidak yakin dengan apa yang kita jual, customer akan merasakannya.
R — Relationship
Saat semua orang membanjiri feed dengan konten AI, yang tetap hadir sebagai manusia akan lebih dipercaya. Apalagi di bisnis B2B, HoReCa, dan foodservice. Orang membeli dari orang yang mereka percaya.
A — Authenticity
Cerita kita. Perjuangan kita. Alasan kenapa kita memulai. AI bisa menulis caption, tapi belum tentu bisa menulis “rasa” dari pengalaman kita.
F — Feeling
Konten yang kuat harus membuat orang merasakan sesuatu. Tidak harus disukai semua orang. Yang penting punya sudut pandang.
T — Timing
Jeda sebelum menjawab. Diam setelah pernyataan penting. Ritme saat bercerita. Itu semua datang dari pengalaman, bukan dari prompt.
AI bisa membantu bagian “science”: struktur, framework, formula, dan sistem.
Tapi “art”-nya tetap dari kita.
Di dunia di mana tools makin murah dan mudah diakses, sisi manusia justru menjadi pembeda terbesar.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah kita sudah pakai AI?”
Tapi:
“Setelah AI mengerjakan bagiannya, apa yang masih kita bawa sebagai manusia?”
Jakarta, 6 Juni 2026
Muadzin Jihad
CEO Forest Beverage Solutions

