Tjokroaminoto: Bangun Jaringan Pengusaha Lokal

Indonesia kaya. Mari bangun Indonesia. Itu yang disampaikan oleh salah satu pembicara dalam pelatihan waralaba yang diselenggarakan oleh Kemendag kemarin. Beberapa kekayaan alam dan hasil bumi Indonesia masuk dalam 10 besar bahkan 5 besar. Termasuk komoditi kopi yang masuk dalam 4 besar dunia. Sayangnya, banyak sekali kekayaan alam tersebut dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Sepulang pelatihan, istri saya, Oka Aurora, mengajak kencan nonton film “Tjokroaminoto, Guru Bangsa”. Film ini mengisahkan sepak terjang dan suka duka sang pendiri Sarikat Islam pada 1913. Beliau tergugah untuk bergerak karena melihat penindasan bangsanya dari VOC, serikat dagang Belanda.

Dan kondisi yang digambarkan di masa-masa itu, kurang lebih sama dengan yang digambarkan pada slide di pelatihan siang tadi. Di dalam bioskop itu hati saya benar-benar trenyuh. Kondisi yang dirasakan HOS Tjokroaminoto, persis seperti yang kita rasakan saat ini. Kekayaan alam punya kita, yang mengelola kita, oleh orang-orang kita, dibeli oleh orang-orang kita, uangnya dibawa oleh perusahaan asing pemiliknya.

Tidak hanya melawan dengan senjata dan fisik, Guru Tjokro menyadarkan dan mengajak rekan-rekan seperjuangannya melawan VOC dengan memperkuat ekonomi. Beliau memimpin Sarekat Islam. Metamorfosa dari organisasi yang didirikan oleh Samanhudi, Sarekat Dagang Islam. Sarekat para pedagang pribumi yang berusaha mandiri dan berdaya.

Digambarkan di film tersebut guru Tjokro mendatangi kota-kota di Jawa, mengajak pentolan-pentolannya membangun jaringan koperasi. Connecting the dots. Itu kekuatan Tjokro yang sangat terlihat dalam film tersebut. Dengan jaring ekonomi tersebut, SI berusaha memberdayakan dan menswadayakan perekonomian anggotanya, juga bangsa Indonesia.

Guru-Bangsa-Tjokroaminoto-Poster-Film-Indonesia

Saya tidak akan meresensi film ini, karena saya tidak ada kapasitas untuk itu. Saya hanya mencoba menyimpulkan sendiri, bahwa untuk menghadapi pasar global, juga MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), yang tidak bisa tidak harus kita hadapi; yang kita lakukan harusnya seperti yang dilakukan oleh Tjokro. Membangun jaringan pengusaha-pengusaha lokal. Berkolaborasi, bersatu, berdaya dan berjuang bersama.

Anda setuju?

.

Depok, 29 April 2015

(edit 28 Oktober 2015. Astaga baru nyadar, kalo tulisan ini belum diposting…)

Muadzin F Jihad

Founder Ranah Kopi

Twitter & Instagram @muadzin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s