Bajrangi Bhaijaan: Ajakan untuk Kembali kepada Fitrah

Setelah mengantar anak-anak menginap di rumah nenek mereka, saya dan istri memutuskan untuk kencan nonton berdua di Grand Indonesia. Adalah sebuah film India yang sedang booming di Jakarta, juga di negara asalnya sana, Bajrangi Bhaijaan.

Seperti biasa, saya tidak akan membuat resensi atau review filmnya, karena saya sadar tidak punya kapasitas untuk itu. Saya sekedar berbagi, bahwa film ini begitu mencerahkan dan menginspirasi.

Bajrangi Bhaijaan

Bajrangi Bhaijaan

Film ini mengisahkan seorang pemuda India Hindu, Pawan atau dikenal juga sebagai Bajrangi (diperankan dengan sangat bagus oleh Salman Khan, yang juga merangkap produser film ini), yang tiba-tiba karena kondisi, terpaksa harus memulangkan seorang anak gadis mungil Pakistan muslim (diperankan dengan cantik  oleh bintang cilik Harshaali Malhotra) yang terpisah dari keluarganya. Perjuangan si pemuda menghadapi konflik karena kehadiran gadis cilik ini, apalagi saat melewati perbatasan dua negara berbeda agama inilah yang menjadi inti ceritanya.

Sebagai sebuah karya seni, film yang disutradarai Kabir Khan ini benar-benar apik. Film ini bisa menghadirkan suasana haru, saat Shahida terpisah dari orang tuanya; lucu, dengan adegan dan dialog smart joke, bukan slapstick; sekaligus tegang, saat mereka dikejar-kejar polisi dan aparat imigrasi. Tentunya tidak ketinggalan suguhan gerak tari dan lagu, yang beberapa diantaranya kolosal, khas film India yang menghibur. Benar-benar film yang komplit. Menjadikan Bajrani ini film favorit India ketiga saya setelah 3 Idiots dan PK.

Selain menghibur, seperti dua film lainnya, film ini sangat mencerahkan dan menginspirasi. Film ini benar-benar membuat kita bercermin, bahwa selama ini kita selalu melihat seseorang dari suku, agama, ras, dan kewarganegaraan. Kita lekatkan hal-hal tersebut kepada manusia, layaknya kita memakaikan baju. Yang pada akhirnya, kita hanya melihat manusia dari baju yang mereka kenakan. Ironisnya, baju-baju itu kita gunakan sebagai alasan untuk menghakimi, membenci, memusuhi, mengintimidasi, bahkan membunuh manusia lain yang berbeda bajunya dengan kita.

Kita lupa bahwa dibalik baju-baju yang kita pakaikan, ke diri kita dan ke orang lain itu, ada sosok manusia. Ya, karena suku, agama, ras, dan kewarganegaraan yang kita ciptakan, kita justru melupakan sosok yang memakai baju itu; manusia yang Tuhan ciptakan dengan sempurna. Kita jadi terbutakan, bahwa di dalam tiap diri manusia, ada ruh Tuhan di sana. Ada bagian Tuhan di tiap-tiap diri manusia. Kita lupa kepada fitrah insani yang Tuhan anugerahkan. Kita seharusnya menjadi makhluk yang saling mengenal, bersilaturahmi dengan didasari cinta, bukan makhluk yang saling membenci dan memusuhi.

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat 49: 13)

.

Depok, 22 Juli 2015

Muadzin F Jihad

Founder Ranah Kopi

Twitter & Instagram @muadzin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s