Boychoir’s Lessons

Semalam tidak sengaja menonton film ini, Boychoir (2015). Ya tidak sengaja, karena yang nyetel film (baca: Oka Aurora) tertidur, jadi saya yang tadinya kerja di laptop, jadi nyambi nonton film.

Menceritakan tentang seorang remaja, Stet, bermasalah, tapi berbakat luar biasa dalam menyanyi. Lewat perjuangan jatuh bangun, dan jalan panjang berliku, akhirnya ia bisa diterima di sekolah yang memiliki grup choir ternama, bahkan hingga akhirnya menjadi solois di choir tersebut.

Saya tidak akan meresensi filmnya, karena bukan kapasitas saya sebagai pe-review film, tapi saya mereferensikan untuk menonton film ini. Secara garis besar layak ditonton. Penuh inspirasi dan motivasi.

Kenapa saya menulis ini adalah, saya mau bagikan sepotong dialog di bagian menjelang akhir film, di mana Stet kehilangan suara treble-nya, karena pecah suara sebab usianya jelang dewasa. Ia terpukul sekali, karena suaranya akan berubah. Dia mungkin bisa menjadi alto-is, tapi menurut gurunya, kedahsyatan suaranya tidak akan pernah kembali lagi.

Kebetulan saya dapat potongan dialog antara Stet dan gurunya, hasil browsing dari sini:

I knew my voice would change,
but I thought I had more time.

Happens to all of us.
I mean, you don't want to be
a kid forever, do you?

Well...
What are the chances
of a good treble becoming a good alto?

You'll never sing like you did.
That voice, that sound...
it wasn't really yours to keep.
You borrowed it for a little while
and then it went somewhere else.

Then what's the point of all
the lessons and the work
that I did if... if I'm just
gonna lose my voice?

The lessons are the point.

Saya ulang bagian akhirnya dengan terjemahan bebas:

Lalu apa poinnya, semua pelajaran yang saya lalui, semua kerja keras yang saya lakukan, kalau ternyata saya harus kehilangan suara saya? Poinnya adalah, pada pelajaran yang kita peroleh.

Jadi, berhasil atau gagal, bukan pada hasilakhirnya yang terpenting, tapi pada pelajaran yang kita peroleh dari proses kita lalui.

Ini berlaku di semua bidang. Juga dalam bisnis. Bukan berhasil atau gagalnya bisnis kita, tapi seberapa besar pelajaran yang bisa kita ambil dari proses membangun bisnis tersebut.

.

Depok, 16 Februari 2020

Muadzin Jihad

IG @muadzin

http://www.muadzin.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s